"Djoko Susanto" Sang Founder Raksasa Waralaba di Indonesia

“Djoko Susanto” Sang Founder Raksasa Waralaba di Indonesia

 

Rumah Pengusaha.Com | Djoko Susanto, yang merupakan pendiri sekaligus pemilik perusahaan retail Alfamart, berhasil mengungguli kekayaan orang-orang terkenal Indonesia, seperti Aburizal Bakrie (peringkat 30) dan Ciputra (peringkat 27). Kekayaannya yang dikumpulkan berjumlah US$ 1,040 miliar (Rp 9,36 triliun).

Semua bermula di tahun 1967, ketika Djoko Susanto masih berusia 17 tahun. Ia diminta mengurus kios sederhana milik orang tuanya di Pasar Arjuna, Jakarta.

Toko itu dinamakan Sumber Bahagia, yang menjual bahan makanan. Tapi tak lama kemudian, Djoko melihat ada kesempatan yang lebih besar. Kiosnya mulai menjajakan rokok.

Djoko benar, bisnis dia dengan cepat membuat para perokok dan pengusaha grosir serta pengecer menjadi pelanggan tetap. Dia bertaruh, perokok akan membayar lebih banyak daripada yang dibayangkan.

Hal ini menarik perhatian Putera Sampoerna, yang mempunyai perusahaan rokok tembakau dan cengkeh terbesar di Indonesia saat itu. Mereka bertemu pada awal 1980 dan bersepakat pada 1985 untuk membuat 15 kios di beberapa lokasi di Jakarta.

Upaya itu berhasil dan menginspirasi mereka untuk membuka supermarket yang dinamakan Alfa Toko Gudang Rabat. Kedua orang itu kemudian membuka toko Alfa Minimart (yang kemudian dikenal sebagai Alfamart) pada 1994.

“Saya pikir penamaan Sampoerna Mart kurang menjual, kemudian saya menggunakan Alfa, sebuah merek yang lebih dikenal dan teruji,” ujar Djoko, seperti dikutip majalah Forbes, Kamis, 24 November 2011.

Kerja sama tersebut berakhir pada 2005, ketika Sampoerna menjual bisnis tembakau–beserta anak perusahaannya (termasuk 70 persen bagian perusahaan Sampoerna yang ada di Alfamart)–kepada Philip Morris International dengan nilai lebih dari US$ 5 miliar.

Philip Morris, yang tidak tertarik bisnis retail, kemudian menjual saham Alfamart kepada Djoko dan investor ekuitas swasta, Northstar. Tahun lalu, Djoko membeli Northstar sehingga membuatnya memiliki 65 persen perusahaan.

Saham itu kemudian diperdagangkan dan menghasilkan dua kali lipat pada 12 bulan terakhir. Hal inilah yang akhirnya membuat Djoko termasuk ke dalam jajaran miliuner dunia. Dia membuat debutnya pada urutan ke-25 dalam jajaran orang terkaya Indonesia dengan kekayaan bersih sebesar US$ 1,04 miliar.
Profil Bos Pengusaha Alfamart, Lebih Kaya Dari Aburizal Bakrie .Berita yang cukup mengejutkan untuk berita yang satu ini.Djoko Susanto yang memiliki Perusahaan PT Sumber Alfaria Srijaya ini telah menempati urutan ke 25 orang terkaya berdasarkan majalah Forbes tahun 2011 lalu dengan kekayaan 1,040 miliar Dollar As atau sekitar 9,36 Trilyun Rupiah. Sedangkan Aburizal Bakrie menempati urutan ke ke 30 dengan total kekayaan sekitar 8,01 trilun Rupiah.
Dengan hasil yang seperti itu,memang layak Djoko Susanto menjadi salah satu acuan dalam mengembangkan bisnis dan juga memberikan motivasi kepada siapa saja yang inging menjadi pengusaha. Djoko Susanto yang di latarbelakangi dengan sebagai penjual atau mengawali karirnya dengan toko kelontong dengan ukuran 560 meter persegi bernama Sumber Bahagia (sumber kebahagiaan) di Pasar Arjuna, Jakarta,

Berikut Profil Lengkap dari  Profil Bos Pengusaha Alfamart, Djoko Susanto

Di tangannya, jaringan Alfamart menggurita dengan ribuan gerai. Jejak gemilangnya juga terekam di Indomaret. Jangan heran, ia kerap disebut sebagai sosok di balik sukses kedua minimarket itu. Apa jurus ampuh yang dimilikinya? Menyebut nama Chief Operating Officer PT Sumber Alfaria Trijaya (SAT), Pudjianto, orang pun, terutama kalangan eksekutif dan pentolan bisnis ritel nasional akan mengacungkan jempol padanya. Maklum, pria kelahiran Gombong, Jawa Tengah, tanggal 4 Mei 1954, ini dikenal sebagai sosok di balik keberhasilan Indomaret dan Alfamart. Berkat konsep yang dibesutnya, kedua minimarket ini terus menggelinding ke berbagai pelosok kota. Setelah sukses membesarkan Indomaret, di tangannya, Alfamart juga terus mengepakkan sayapnya. Saat dipinang Djoko Susanto, pemilik Alfamart, pada 2001, gerai Alfamart baru 34. Pada akhir 2001, jumlah gerai menjadi 145. Setahun kemudian, jumlah gerai membengkak menjadi 350. Tak hanya dari sisi kuantitas, dari sisi ekuitas merek, Alfamart juga tercatat sebagai minimarket nomor satu menurut data AC Nielsen. Strategi dan jurus apakah yang dilakukan Pudjianto? Diakuinya, dibutuhkan waktu hingga satu tahun untuk mendesain konsep Alfamart. “Perusahaan mengharapkan saya bisa membawa Alfamart menjadi nomor satu dari jumlah unit dan keuntungan,” katanya. Untuk memperbanyak gerai, menurutnya, ada beberapa pertimbangan. Dalam hal potensi lokasi, misalnya, persyaratan yang paling simpel: harus dihuni sekitar 2.000 kepala keluarga, lalu lintasnya harus dilalui angkutan umum, aman, dan dilewati jaringan komunikasi. “Kalau dari hitungan bisnis menguntungkan, kami berani buka outlet,” katanya. Menurut Pudji, dalam mengelola minimarket, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain lokasi, segmentasi, pemilihan produk, pricing, promosi, komunikasi dan inovasi. Untuk inovasi, Alfamart memang selangkah lebih maju.

adapun salah satu strateginya adalah sebagai berikut :

Djoko menjual kepemilikannya di jaringan Alfa Supermarket kepada Carefour. Selanjutnya dana hasil transaksi itu digunakan Djoko untuk fokus mengelola minimarket Alfamart dan Alfamidi.Di luar dugaan, pertumbuhan Alfamart luar biasa. Saat ini sudahmencapai lebih dari 2.779 gerai, seperti hendak mengimbangi pertumbuhanjumlah gerai Indomaret – pesaing utamanya – yang juga tumbuh pesat.Sejak dirintis 1988, kini jaringan Indomaret mencapai 3.134 gerai.
Sebenarnya selain Alfamart dan Indomaret masihbanyak pemain minimarket lain. Sebut saja Circle K, Starmart, Yomart,AMPM, dan beberapa nama lainnya (termasuk pemain lokal). Namun,yang tampak di mata masyarakat adalah adu kuat antara Alfamart danIndomaret. Maklum, kedua merek minimarket ini sangat agresif menggarappasar hingga ke kawasan perumahan. Saking ketatnya bersaing, merekaseperti tak peduli dengan kedekatan lokasi toko. Dalam radius 10 meter,gampang sekali dijumpai toko Alfamart berhadapan dengan Indomaret.Malahan, di beberapa tempat ada satu gerai Indomaret diapit duaAlfamart. Boleh jadi ini jurus Alfamart untuk menekan Indomaret yangrata-rata gerainya lebih luas dibanding Alfamart.
Alfamart .Saat ini sudah mencapai lebih dari2.779 gerai seperti hendakmengimbangi pertumbuhan jumlah geraiIndomaret- pesaing utamanya yangjuga tumbuh pesat.
Indomaret pun tak mau kalah set dari Alfamart.Tak puas dengan 3.134 gerainya, tahun ini Indomaret berencanamenambahsekitar 900 gerai lagi. Target itu mengalami kenaikan lebih-kurang250gerai dibanding tahun 2008 yang penambahan gerainyaberkisar 650toko.“Kami akan teruskan ke Aceh. Jadi, tahun ini totalgerai kamiakanmenjadi 4.000 an toko. Kami buka di Palembang danBali, “ujarLaurensiusTirta Widjaja, Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama (IP),pengelola jaringan minimarket Indomaret. Saat ini gerai Indomaret diBali mencapai 50 toko dan di Medan 42 toko. Lauren mengklaim pihaknyaadalah pionir di kedua wilayah itu.
Alfamartbertekadmeningkatkan porsi waralabanya dari 23 % menjadi30 %,sehingga memberpeluang lebih besar pada investor untukmembesarkan Alfamart hingga ke pelosok.
Dalamhal penentuan lokasi gerai Indomaret, metodenya relativefleksibel.DiJakarta misalnya, diplot dulu daerah utara, selatan, baratdantimur.Kemudian dipilah lagi per kecamatan dan kabupaten. Nah, ditiapkecamatan dibuka kesempatan pembukaan dua-tiga toko. Bila dalamperkembangannya kinerja gerai-gerai itu bagus, akan ditambah lagikesempatan pembukaan gerai lainnya. Kendati begitu, manajemen IP tidakasal buka saja, tapi bernegosiasi dulu dengan pemilik waralabaIndomaretyang lama di daerah itu, akankah layak atau tidak apabiladitambahgerai baru lagi.
Laurenmenambahkan sekarang banyak geraiIndomaret yang jaraknyasangatdekat dengan pesaing terdekatnya. “Tapi,bukan kami sesumbar lho.Tokokami tidak bisa head to head dengan satutoko. Sebab mind setorang,Indomaret sudah besar, sehingga tidak bisasatu-satu. Akibatnya,kompetitor membuka dua-tiga toko untuk bersaingdengan satu toko kami,“ungkapnya. “Kalau kami ikut membalas denganmembuka banyak gerai, itukan namanya kanibalisme dan tidak efisien.Kami harus lebih smartdalamhal itu. Apalagi ini bisnis waralaba. Jadikami punyaperhitungan skalaekonominya,“ Lauren menjelaskan.
Meningkatkan pola kerja sama waralabaadalahstrategi lain yang dilancarkan minimarket untuk ekspansi.Dalamhal iniAlfamart bertekad meningkatkan porsi waralabanya dari23%menjadi 30%,sehingga memberi peluang lebih besar pada investoruntukmembesarkanAlfamart hingga ke pelosok. Adapun Indomaret mengakuhendakmeningkatkaninovasi produknya. Salah satunya kinidikembangkan dalahmeluncurkankartu multifungsi. Smart card ini tidakhanya berfungsiuntuk belanja,tapi juga untuk membayar tagihantelepon, listrik,cicilan motor danmobil. Sekadar mengingatkan, saatini jaringanIndomaret yangmenggunakan system waralababerjumlah1.300 gerai.Dengan nilai investasi Rp. 250-300 Jutapergerai, Laurenmenilai, bisniswaralaba ini tidak main-main.Investor dan manajemen IPsendiri mengakuserius mengelolanya,sehingga tingkat kegagalansebagaimana diklaimLauren 5%.
Perkembanganyang menarik jugabisa dilihat dari sisi merek produkyang dijajakan.Rupanya tak hanyahypermarket yang jeli membuat privatelabel.Pengelola Jaringan minimarket punmengembangkanprivate labeluntuk menambah portofolio produknya denganharga miringdibandingproduk serupa dari merek-merek terkenal. “kamijuga punyaprodukdengan merek sendiri, tapi angkanya masih terbilangkecil. Yaitusekitar 4 % dari total stock keeping unit yang jumlahyamencapai 5 ribuitem,“ ujar Heryanto.
Diluar bisnisutamanya, kalangan minimarket juga cukup kreatifmengoptimalkan sumberpendapatan lainnya. Alfamart yang omset tiapgerainya diklaim Henryantorata-rata mencapai Rp 8,5 juta/hari mendapatgross margin kurang-lebih12%. Ada revenue tambahan Alfamart daripenyewaangondola, lapak di teras depan toko, dan listing fee.Sayangnya,petinggi perusahaan ritel yang Januari 2009 lalu go publicitu engganmembeberkan berapa nilai nominal income tambahannya.
Strategi serupa pun ditempuh Indomaret denganmenyewakan gondola atau lapaknya ke mitra bisnis. “Untuk listing fee,masih kami patok di bawah Rp.10 juta per item produk. “ ujar Laurenseraya mengklaim rata-rata omset gerai Indomaret (yang biasanyadikelola8-10 karyawan)per hari mencapai Rp.9-10 juta.
Kedepan,kalangan pelaku bisnis minimarket tampaknya bertekadmelipatgandakanbisnisnya, Indomaret misalnya ingin menjadi one stopshopping danservice. “nanti kami juga akan mengembangkan konseppengiriman uangperson to person dengan memanfaatkan jaringan tokoIndomaret,“ kataLauren menyebut salah satu contoh program masa depan.
Ya,sebagaimana diungkapkan Djoko Susanto, bisnis minimarket itubisnismarathon. Tidak bisa sebuah perusahaan pengelola jaringanminimarketmerasa cukup dengan 100-200 toko, lalu menganggapnya sudahuntung.”Modal akan terus digulirkan untuk ekspansi,” kata founder Alfamart itu.

Ada konspirasi terselubung antara pemilik indomaret dan alfamart Membuat Pedagang Kecil Mati Berdiri

Perkembangan Mini Market Waralaba

Indofood Group merupakan perusahaan pertama yang menjadi pionir lahirnya mini market di Indonesia pada tahun 1988. Kemudian Hero Supermarket mendirikan Starmart pada tahun 1991. Di susul Alfa Group mendirikan Alfa Minimart pada tahun 1999 yang kemudian berubah menjadi Alfamart. Dalam hitungan tahun, mini market telah menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perubahan orientasi konsumen dalam pola berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Dulu konsumen hanya mengejar harga murah, sekarang tidak hanya itu saja tetapi kenyamanan berbelanja pun menjadi daya tarik tersendiri.

Bisnis mini market melalui jejaring waralaba alias franchise berkembang biak sampai pelosok kota kecamatan kecil. Tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Khususnya mini market dengan brand Indomaret dan Alfamart. Siapa yang tidak kenal Indomaret? Dan siapa yang tidak kenal Alfamart? Anak kecil pun kalau beli permen pasti “nunjuknya” minta ke Indomaret atau ke Alfamart. Kedua merk ini dimiliki oleh group perusahaan raksasa yaitu Indomaret milik PT. Indomarco Prismatama (Indofood Group) dan Alfamart milik perusahaan patungan antara Alfa Group dan PT. HM Sampoerna, Tbk.

Indomaret ternyata berkembang tidak hanya dengan jejaring waralaba yang mencapai 785 gerai, tetapi gerai milik sendiri seabreg jumlahnya mencapai 1072 gerai(lihat grafik perkembangan toko yang diambil dari http://www.indomaret.co.id ). Sedangkan Alfamart berdasarkan penelusuran penulis di http://www.alfamartku.commemiliki 1400 gerai, tidak diperoleh data mengenai jumlah yang dimiliki sendiri dan yang dimiliki terwaralaba.

Bila kita hitung rata-rata nilai investasi minimal untuk mendirikan mini market waralaba sekitar Rp. 300 juta saja (diluar bangunan). Dikalikan dengan 1.072 gerai yang dimiliki sendiri. Berapa ratus milyar PT. Indomarco Prismatama mengeluarkan dana untuk investasi di bisnis mini market? Indofood Group juga ternyata tidak saja pemilik merk Indomaret, tetapi juga mendirikan mini market Omi, Ceriamart, dan Citimart lewat anak perusahaannya yang lain. Belum lagi didukung dengan distribusi barang, bahkan juga sebagai produsen beberapa merk kebutuhan pokok sehari-hari. Semua dikuasai dari hulu sampai hilir. Dari sabang sampai merauke.

Persaingan Tidak Seimbang

Pasti kita maklum bersama, betapa sengitnya persaingan di bisnis ritel khususnya Indomaret dan Alfamart sebagai market leader mini market. Dengan mengutip kalimat dalam artikel Sektor Ritel Makin Menggiurkan pada Swa Sembada No.01/XX/6-8 Januari 2005 (sumber.www.indomaret.co.id ) bahwa”Yang mungkin sangat sengit persaingannya adalah dalam hal perebutan lokasi. Pastinya setiap pemain memperebutkan lokasi-lokasi yang dinilai strategis. Apalagi di bisnis ini lokasi merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Perebutan lokasi strategis ini, bisa juga berpengaruh terhadap harga property. Bisa saja harga ruko jadi naik karena tingginya demand terhadap mini market.”

Jadi betapa agresifnya indomaret dan alfamart dalam memperebutkan lokasi yang dinilai strategis. Bahkan hampir di setiap komplek perumahan/pemukiman pasti akan berdiri salah satu mini market waralaba tersebut dan atau keduanya. Sudah tidak mungkin pedagang eceran tradisional akan mampu mencari lokasi strategis lagi untuk saat ini dan di masa mendatang. Jika kita bandingkan dari modal saja, pedagang eceran sudah sulit bergerak.

Selain itu supermarket, toserba, dan bahkan kini ada pasar raksasa bernama hypermarket bermunculan. Baik hypermarket lokal maupun hypermarket dari luar sana. Sekedar ilustrasi mari kita berhitung sejenak, berapa banyak jumlah pasar raksasa tersebut mulai dari jalan Thamrin, Cikokol sampai BSD City di serpong, Tangerang. Di Kota Modern (Modernland) ada Hypermart , lalu hanya sekitar berjarak 1 km berdiri megah Carefour. Berikutnya di Serpong Town Square, kebon nanas berdiri Giant Hypermarket. Kemudian di World Trade Centre (WTC) Matahari, Serpong berdiri kembali Hypermart. Di samping pintu gerbang perumahan Villa Melati Mas, ada lagi Giant Hypermarket. Dan di International Trade Centre (ITC) BSD City ada Carefour. Semua itu jaraknya antara pasar raksasa yang satu dengan pasar raksasa yang lain hanya sekitar 1 km. Luarrr biasa.!

Apalagi jika kita melihat perang harga promosi mini market atau legih gila lagi hypermarket raksasa. Dengan spanduk atau baliho besar bertuliskan nama barang dan harganya yang fantastis rendah. ! Entah banting harga atau memang harga beli mereka yang teramat rendah bila di bandingkan dengan harga beli pedagang eceran kecil bergerai warung atau toko tradisional. Memang tidak semua barang berharga murah, tetapi membanting harga sedemikian rendahnya di bawah harga pasar, membuat miris para pedagang eceran kecil. Masih untung Cuma perang harga!

Dengan tidak bermaksud menggugat cara-cara promosi yang dilakukan oleh para pengelola pasar raksasa tersebut. Penulis hanya ingin mengajak kepada para pengelola pasar raksasa untuk membayangkan sejenak. Bagaimana perasaan pedagang warung dan toko tradisional, ketika ada konsumen bilang “di hypermarket aja harganya sekian???”. Kita tidak menyalahkan konsumen yang punya pemikiran demikian, membandingkan harga di hypermarket dengan di warung atau toko tradisionl. Juga tidak bisa menyalahkan hypermarket dengan promosi harga yang gila-gilaan. Mungkin ini salah satu fenomena globalisasi.

Posisi Pasar Pengecer Tradisional

Melihat dari sisi manapun, posisi pedagang tradisional semakin terjepit. Menjerit. Dan merintih tergilas persaingan bisnis yang tidak seimbang. Bisakah kita membayangkan? Posisi pedagang tradisional yang modalnya hanya semangat berwirausaha dengan sedikit uang puluhan juta. Bersaing dengan mini market waralaba yang modalnya ratusan juta plus jaringan distribusi barang yang sangat baik, didukung system operasional prosedur dan kecanggihan tekhnologi. Ternyata cukup ampuh untuk mematahkan tulang punggung keluarga pedagang eceran tradisonal.

Tapi yakinlah semua persaingan yg super ketat ini masih ada banyak peluang yg terbuka lebar yg bisa dijalankan dengan berbekal ulet, tekun, dan menarik hati pembeli dengan melakukan dianjurkan dalam Islam serta dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan menerapkan akhlak mulya dalam berdagang, serta yang paling penting keyakinan bahwa ALLAH SWT yg telah mengatur semua Rezeki manusia, InsyaALLAH semuanya bisa sukses.

Djoko menjual kepemilikannya di jaringan Alfa Supermarket kepada Carefour. Selanjutnya dana hasil transaksi itu digunakan Djoko untuk fokus mengelola minimarket Alfamart dan Alfamidi.Di luar dugaan, pertumbuhan Alfamart luar biasa. Saat ini sudahmencapai lebih dari 2.779 gerai, seperti hendak mengimbangi pertumbuhanjumlah gerai Indomaret – pesaing utamanya – yang juga tumbuh pesat.Sejak dirintis 1988, kini jaringan Indomaret mencapai 3.134 gerai.
Sebenarnya selain Alfamart dan Indomaret masihbanyak pemain minimarket lain. Sebut saja Circle K, Starmart, Yomart,AMPM, dan beberapa nama lainnya (termasuk pemain lokal). Namun,yang tampak di mata masyarakat adalah adu kuat antara Alfamart danIndomaret. Maklum, kedua merek minimarket ini sangat agresif menggarappasar hingga ke kawasan perumahan. Saking ketatnya bersaing, merekaseperti tak peduli dengan kedekatan lokasi toko. Dalam radius 10 meter,gampang sekali dijumpai toko Alfamart berhadapan dengan Indomaret.Malahan, di beberapa tempat ada satu gerai Indomaret diapit duaAlfamart. Boleh jadi ini jurus Alfamart untuk menekan Indomaret yangrata-rata gerainya lebih luas dibanding Alfamart.
Alfamart .Saat ini sudah mencapai lebih dari2.779 gerai seperti hendakmengimbangi pertumbuhan jumlah geraiIndomaret- pesaing utamanya yangjuga tumbuh pesat.
Indomaret pun tak mau kalah set dari Alfamart.Tak puas dengan 3.134 gerainya, tahun ini Indomaret berencanamenambahsekitar 900 gerai lagi. Target itu mengalami kenaikan lebih-kurang250gerai dibanding tahun 2008 yang penambahan gerainyaberkisar 650toko.“Kami akan teruskan ke Aceh. Jadi, tahun ini totalgerai kamiakanmenjadi 4.000 an toko. Kami buka di Palembang danBali, “ujarLaurensiusTirta Widjaja, Direktur Pemasaran PT Indomarco Prismatama (IP),pengelola jaringan minimarket Indomaret. Saat ini gerai Indomaret diBali mencapai 50 toko dan di Medan 42 toko. Lauren mengklaim pihaknyaadalah pionir di kedua wilayah itu.
Alfamartbertekadmeningkatkan porsi waralabanya dari 23 % menjadi30 %,sehingga memberpeluang lebih besar pada investor untukmembesarkan Alfamart hingga ke pelosok.
Dalamhal penentuan lokasi gerai Indomaret, metodenya relativefleksibel.DiJakarta misalnya, diplot dulu daerah utara, selatan, baratdantimur.Kemudian dipilah lagi per kecamatan dan kabupaten. Nah, ditiapkecamatan dibuka kesempatan pembukaan dua-tiga toko. Bila dalamperkembangannya kinerja gerai-gerai itu bagus, akan ditambah lagikesempatan pembukaan gerai lainnya. Kendati begitu, manajemen IP tidakasal buka saja, tapi bernegosiasi dulu dengan pemilik waralabaIndomaretyang lama di daerah itu, akankah layak atau tidak apabiladitambahgerai baru lagi.
Laurenmenambahkan sekarang banyak geraiIndomaret yang jaraknyasangatdekat dengan pesaing terdekatnya. “Tapi,bukan kami sesumbar lho.Tokokami tidak bisa head to head dengan satutoko. Sebab mind setorang,Indomaret sudah besar, sehingga tidak bisasatu-satu. Akibatnya,kompetitor membuka dua-tiga toko untuk bersaingdengan satu toko kami,“ungkapnya. “Kalau kami ikut membalas denganmembuka banyak gerai, itukan namanya kanibalisme dan tidak efisien.Kami harus lebih smartdalamhal itu. Apalagi ini bisnis waralaba. Jadikami punyaperhitungan skalaekonominya,“ Lauren menjelaskan.
Meningkatkan pola kerja sama waralabaadalahstrategi lain yang dilancarkan minimarket untuk ekspansi.Dalamhal iniAlfamart bertekad meningkatkan porsi waralabanya dari23%menjadi 30%,sehingga memberi peluang lebih besar pada investoruntukmembesarkanAlfamart hingga ke pelosok. Adapun Indomaret mengakuhendakmeningkatkaninovasi produknya. Salah satunya kinidikembangkan dalahmeluncurkankartu multifungsi. Smart card ini tidakhanya berfungsiuntuk belanja,tapi juga untuk membayar tagihantelepon, listrik,cicilan motor danmobil. Sekadar mengingatkan, saatini jaringanIndomaret yangmenggunakan system waralababerjumlah1.300 gerai.Dengan nilai investasi Rp. 250-300 Jutapergerai, Laurenmenilai, bisniswaralaba ini tidak main-main.Investor dan manajemen IPsendiri mengakuserius mengelolanya,sehingga tingkat kegagalansebagaimana diklaimLauren 5%.
Perkembanganyang menarik jugabisa dilihat dari sisi merek produkyang dijajakan.Rupanya tak hanyahypermarket yang jeli membuat privatelabel.Pengelola Jaringan minimarket punmengembangkanprivate labeluntuk menambah portofolio produknya denganharga miringdibandingproduk serupa dari merek-merek terkenal. “kamijuga punyaprodukdengan merek sendiri, tapi angkanya masih terbilangkecil. Yaitusekitar 4 % dari total stock keeping unit yang jumlahyamencapai 5 ribuitem,“ ujar Heryanto.
Diluar bisnisutamanya, kalangan minimarket juga cukup kreatifmengoptimalkan sumberpendapatan lainnya. Alfamart yang omset tiapgerainya diklaim Henryantorata-rata mencapai Rp 8,5 juta/hari mendapatgross margin kurang-lebih12%. Ada revenue tambahan Alfamart daripenyewaangondola, lapak di teras depan toko, dan listing fee.Sayangnya,petinggi perusahaan ritel yang Januari 2009 lalu go publicitu engganmembeberkan berapa nilai nominal income tambahannya.
Strategi serupa pun ditempuh Indomaret denganmenyewakan gondola atau lapaknya ke mitra bisnis. “Untuk listing fee,masih kami patok di bawah Rp.10 juta per item produk. “ ujar Laurenseraya mengklaim rata-rata omset gerai Indomaret (yang biasanyadikelola8-10 karyawan)per hari mencapai Rp.9-10 juta.
Kedepan,kalangan pelaku bisnis minimarket tampaknya bertekadmelipatgandakanbisnisnya, Indomaret misalnya ingin menjadi one stopshopping danservice. “nanti kami juga akan mengembangkan konseppengiriman uangperson to person dengan memanfaatkan jaringan tokoIndomaret,“ kataLauren menyebut salah satu contoh program masa depan.
Ya,sebagaimana diungkapkan Djoko Susanto, bisnis minimarket itubisnismarathon. Tidak bisa sebuah perusahaan pengelola jaringanminimarketmerasa cukup dengan 100-200 toko, lalu menganggapnya sudahuntung.”Modal akan terus digulirkan untuk ekspansi,” kata founder Alfamart itu.

Ada konspirasi terselubung antara pemilik indomaret dan alfamart Membuat Pedagang Kecil Mati Berdiri

Perkembangan Mini Market Waralaba

Indofood Group merupakan perusahaan pertama yang menjadi pionir lahirnya mini market di Indonesia pada tahun 1988. Kemudian Hero Supermarket mendirikan Starmart pada tahun 1991. Di susul Alfa Group mendirikan Alfa Minimart pada tahun 1999 yang kemudian berubah menjadi Alfamart. Dalam hitungan tahun, mini market telah menyebar ke berbagai daerah seiring dengan perubahan orientasi konsumen dalam pola berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari. Dulu konsumen hanya mengejar harga murah, sekarang tidak hanya itu saja tetapi kenyamanan berbelanja pun menjadi daya tarik tersendiri.

Bisnis mini market melalui jejaring waralaba alias franchise berkembang biak sampai pelosok kota kecamatan kecil. Tumbuh subur bak jamur di musim hujan. Khususnya mini market dengan brand Indomaret dan Alfamart. Siapa yang tidak kenal Indomaret? Dan siapa yang tidak kenal Alfamart? Anak kecil pun kalau beli permen pasti “nunjuknya” minta ke Indomaret atau ke Alfamart. Kedua merk ini dimiliki oleh group perusahaan raksasa yaitu Indomaret milik PT. Indomarco Prismatama (Indofood Group) dan Alfamart milik perusahaan patungan antara Alfa Group dan PT. HM Sampoerna, Tbk.

Indomaret ternyata berkembang tidak hanya dengan jejaring waralaba yang mencapai 785 gerai, tetapi gerai milik sendiri seabreg jumlahnya mencapai 1072 gerai(lihat grafik perkembangan toko yang diambil dari http://www.indomaret.co.id ). Sedangkan Alfamart berdasarkan penelusuran penulis di http://www.alfamartku.commemiliki 1400 gerai, tidak diperoleh data mengenai jumlah yang dimiliki sendiri dan yang dimiliki terwaralaba.

Bila kita hitung rata-rata nilai investasi minimal untuk mendirikan mini market waralaba sekitar Rp. 300 juta saja (diluar bangunan). Dikalikan dengan 1.072 gerai yang dimiliki sendiri. Berapa ratus milyar PT. Indomarco Prismatama mengeluarkan dana untuk investasi di bisnis mini market? Indofood Group juga ternyata tidak saja pemilik merk Indomaret, tetapi juga mendirikan mini market Omi, Ceriamart, dan Citimart lewat anak perusahaannya yang lain. Belum lagi didukung dengan distribusi barang, bahkan juga sebagai produsen beberapa merk kebutuhan pokok sehari-hari. Semua dikuasai dari hulu sampai hilir. Dari sabang sampai merauke.

Persaingan Tidak Seimbang

Pasti kita maklum bersama, betapa sengitnya persaingan di bisnis ritel khususnya Indomaret dan Alfamart sebagai market leader mini market. Dengan mengutip kalimat dalam artikel Sektor Ritel Makin Menggiurkan pada Swa Sembada No.01/XX/6-8 Januari 2005 (sumber.www.indomaret.co.id ) bahwa”Yang mungkin sangat sengit persaingannya adalah dalam hal perebutan lokasi. Pastinya setiap pemain memperebutkan lokasi-lokasi yang dinilai strategis. Apalagi di bisnis ini lokasi merupakan salah satu faktor yang sangat penting. Perebutan lokasi strategis ini, bisa juga berpengaruh terhadap harga property. Bisa saja harga ruko jadi naik karena tingginya demand terhadap mini market.”

Jadi betapa agresifnya indomaret dan alfamart dalam memperebutkan lokasi yang dinilai strategis. Bahkan hampir di setiap komplek perumahan/pemukiman pasti akan berdiri salah satu mini market waralaba tersebut dan atau keduanya. Sudah tidak mungkin pedagang eceran tradisional akan mampu mencari lokasi strategis lagi untuk saat ini dan di masa mendatang. Jika kita bandingkan dari modal saja, pedagang eceran sudah sulit bergerak.

Selain itu supermarket, toserba, dan bahkan kini ada pasar raksasa bernama hypermarket bermunculan. Baik hypermarket lokal maupun hypermarket dari luar sana. Sekedar ilustrasi mari kita berhitung sejenak, berapa banyak jumlah pasar raksasa tersebut mulai dari jalan Thamrin, Cikokol sampai BSD City di serpong, Tangerang. Di Kota Modern (Modernland) ada Hypermart , lalu hanya sekitar berjarak 1 km berdiri megah Carefour. Berikutnya di Serpong Town Square, kebon nanas berdiri Giant Hypermarket. Kemudian di World Trade Centre (WTC) Matahari, Serpong berdiri kembali Hypermart. Di samping pintu gerbang perumahan Villa Melati Mas, ada lagi Giant Hypermarket. Dan di International Trade Centre (ITC) BSD City ada Carefour. Semua itu jaraknya antara pasar raksasa yang satu dengan pasar raksasa yang lain hanya sekitar 1 km. Luarrr biasa.!

Apalagi jika kita melihat perang harga promosi mini market atau legih gila lagi hypermarket raksasa. Dengan spanduk atau baliho besar bertuliskan nama barang dan harganya yang fantastis rendah. ! Entah banting harga atau memang harga beli mereka yang teramat rendah bila di bandingkan dengan harga beli pedagang eceran kecil bergerai warung atau toko tradisional. Memang tidak semua barang berharga murah, tetapi membanting harga sedemikian rendahnya di bawah harga pasar, membuat miris para pedagang eceran kecil. Masih untung Cuma perang harga!

Dengan tidak bermaksud menggugat cara-cara promosi yang dilakukan oleh para pengelola pasar raksasa tersebut. Penulis hanya ingin mengajak kepada para pengelola pasar raksasa untuk membayangkan sejenak. Bagaimana perasaan pedagang warung dan toko tradisional, ketika ada konsumen bilang “di hypermarket aja harganya sekian???”. Kita tidak menyalahkan konsumen yang punya pemikiran demikian, membandingkan harga di hypermarket dengan di warung atau toko tradisionl. Juga tidak bisa menyalahkan hypermarket dengan promosi harga yang gila-gilaan. Mungkin ini salah satu fenomena globalisasi.

Posisi Pasar Pengecer Tradisional

Melihat dari sisi manapun, posisi pedagang tradisional semakin terjepit. Menjerit. Dan merintih tergilas persaingan bisnis yang tidak seimbang. Bisakah kita membayangkan? Posisi pedagang tradisional yang modalnya hanya semangat berwirausaha dengan sedikit uang puluhan juta. Bersaing dengan mini market waralaba yang modalnya ratusan juta plus jaringan distribusi barang yang sangat baik, didukung system operasional prosedur dan kecanggihan tekhnologi. Ternyata cukup ampuh untuk mematahkan tulang punggung keluarga pedagang eceran tradisonal.

Tapi yakinlah semua persaingan yg super ketat ini masih ada banyak peluang yg terbuka lebar yg bisa dijalankan dengan berbekal ulet, tekun, dan menarik hati pembeli dengan melakukan dianjurkan dalam Islam serta dicontohkan langsung oleh Nabi Muhammad SAW dengan menerapkan akhlak mulya dalam berdagang, serta yang paling penting keyakinan bahwa ALLAH SWT yg telah mengatur semua Rezeki manusia, InsyaALLAH semuanya bisa sukses.

happy wheels 2

Latest Tweets

  • It seems like you forget type any of your Twitter OAuth Data.